Wednesday, July 31, 2019

laporan KAF Percobaan v penetapan kadar senyawa golongan xhantin (theofilin)


BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang
Dalam bidang farmasi khususnya kimia atau analisis farmasi sering dilakukan analisis sediaan farmasi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis kualitatif seperti identifikasi organoleptik, sedangkan analisa kuantitatif digunakan untuk menentukan kadar suatu senyawa.
Pada percobaan ini akan dilakukan analisis senyawa turunan xanthin yakni theobromin yang selanjutnya akan ditentukan kadarnya dengan menggunakan metode argentometri.
Argentometri merupakan suatu metode penentuan kadar dimana theobromin akan membentuk endapan dengan larutan perak nitrat dalam suasana basa karena mempunyai atom hidrogen yang dapat dilepaskan.
Xanthin adalah turuna purin alamiah, senyawa xanthin yang benyak digunakan dalam bidabg farmasi adalah kafein , teobromin, dan teofilin. Teofilin dan teobromin merupakan asam lemah dengan pKa 8,6 dan 9,9. Kafein tidak bersifat asm karena mempunyai atom hydrogen yang dapat dilepaskan, sehingga kafein merupakan basa yang sangat lemah dan garamnya mudah terurai oleh air, karenanya kafein dapat disari dari larutan asam atau basa dengan kloroform. Tetapi kafein mudah terurai oleh basa kuat, maka larutan dalam basa harus segera di sari.
Semakin berkembangnya zaman, perkembangan obat xanthin pun semakin berkembang. Hingga tahun 1939, telah ditemukan beberapa turunan dari golongan xanthin yang pemakaiannya aman. Misalnya kofein, teofilin dan teobromin, dan turunan-turunan lainnya yang lebih aman lagi. Setelah diintroduksi derivat-derivat yang sukar resorpsinya dari usus akhirnya disintesa xanthin dengan efek panjang.
Begitu pentingnya peranan xanthin dalam dunia farmasi khususnya dalam khemoterapi maka kita perlu mengetahui lebih lanjut tentang cara mengidentifikasi xanthin. Untuk lebih memahami tentang xanthin serta dapat mengidentifikasi senyawa golongan xanthin, baik itu secara kualitatif maupun kuantitatif, maka dilakukanlah percobaan ini dengan menggunakan beberapa metode analisa kualitatif dan kuantitatif.
I.2 Tujuan Percobaan
  1. Praktikum ini bertujuan membuat larutan standard
      dengan iodometri.
  2. Praktikum ini bertujuan membuat standarisasi larutan natrium
      tiosulfat dengan larutan kalium dikromat.
  3. Praktikum ini bertujuan menggunakan larutan standard natrium
      tiosulfat untuk penetapan kadar teofilin.















BAB  II
TINJAUAN  PUSTAKA
II.1. Dasar teori
    Xanthin merupakan turunan alamiah purin. Senyawa xanthin yang banyak digunakan adalah kofein, teobromin dan teofilin. Senyawa xanthin merupakan basa lemah dengan pKb antara 13 – 14. Teofilin dan teobromin merupakan asam lemah dengan pKa 8,6 dan 9,9. Kofein tidak bersifat asam karena tidak mempunyai atom hydrogen yang dapat dilepaskan sehingga kofein merupakan basa sangat lemah dan garamnya mudah terurai oleh air, karenanya kofein dapat disari dari larutan asam atau basa ( lebih mudah dari larutan basa ) dengan kloroform. Tetapi kofein mudah terurai oleh basa kuat, maka ;arutan dalam basa harus segera di sari.
Derivate xanthin yang terdiri dari kafein, teofilin dan teobromin ialah alkaloid yang terdapat dalam tumbuhan. Sejak dahulu ekstrak tumbuh -  tumbuhan ini digunakan sebagai minuman. Kafein terdapat dalam kopi yang didapat dari biji. Coffea Arabica, teh, dari daun thea sinensis, mengandung kafein dan teofilin. Cocoa, yang didapat dari biji Theobroma cacao mengandung kafein dan teobromin. Penelitian membuktikan bahwa kafein berefek stimulasi. Inilah daya tarik minuman yang mengandung kafein. Ternyata belum ada senyawa sintetik yang mempunyai keunggulan terapi seperti senyawa ala.
Diantara sekian banyak contoh teknik atau cara dalam analisis kuantitatif terdapat dua cara melakukan analisis dengan menggunakan senyawa pereduksi iodium yaitu secara langsung dan tidak langsung. Cara langsung disebut iodimetri (digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secara kuantitatif pada titik ekivalennya). Namun, metode iodimetri ini jarang dilakukan mengingat iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah. Sedangkan cara tidak langsung disebut iodometri (oksidator yang dianalisis kemudian direaksikan dengan ion iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium thiosilfat standar atau asam arsenit) .
Dengan kontrol pada titik akhir titrasi jika kelebihan 1 tetes titran. perubahan warna yang terjadi pada larutan akan semakin jelas dengan penambahan indikator amilum/kanji.
Iodium merupakan oksidator lemah. Sebaliknya ion iodida merupakan suatu pereaksi reduksi yang cukup kuat. Dalam proses analitik iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat.
Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia.
Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium thiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama.
Titrasi argentometri adalah titrasi dengan menggunakan perak nitrat sebagai titran dimana akan terbentuk garam perak yang sukar larut. Jika larutan perak nitrat ditambahkan pada larutan kalium sianida maka mula-mula akan terbentuk endapan putih yang pada pengadukan akan larut membentuk larutan kompleks yang stabil .

AgNO3 + 2 KCN → K(Ag(CN)2) +KNO3
Ag+ + 2 nn- → Ag(CN)2

                        Jika reaksi telah sempurna maka reaksi akan berlangsung lebih lanjut membentuk senyawa kompleks yang tak larut .

Ag+ + (Ag(CN)2)- → Ag(Ag(CN)2)

       Titik akhir ditandai dengan terbentuknya endapan putih yang permanent. salah satu kesulitan dalam menentukan titik akhir ini terletak pada fakta dimana perak sianida yang diendapkan oleh adanya kelebihan ion perak yang agak lebih awal dari titik ekuivalen, sangat lambat larut kembali dan titrasi ini makan waktu yang lama. Dalam menentukan titik akhir titrasi ada beberapa metode yang digunakan diantaranya.
       Metode morh/langsung : Pada prinsipnya adalah pembentukan endapan berwarna dari kalium kromat yang ditambahkan sebagai indikator. Pada titik akhir titrasi ion kromat akan terikat oleh ion perak membentuk senyawa yang sukar larut berwarna merah. Titrasi ini harus dilangsungkan dalam suasana netral atau sedikit alkali lemah, dengan PH 6,5-9, karena pada suasana asam akan terjadi reaksi pembentukan senyawa dikromat.
       Metode volhard / tidak langsung : Pada prinsipnya adalah penentuan titik akhir dengan ditandai oleh pembentukan senyawa berwarna yang larut. Metode ini dilakukan titrasi secara tidak langsung dimana dilakukan penambahan AgNO3 berlebih. Kelebihan AgNO3 dititrasi dengan larutan baku KCNS 0,1 N atau ammonium tiosianat 0,1 N. Indikator yang digunakan adalah besi (III) nitrat atau besi (III) ammonium sulfat .
       Metode k.Fajans : Pada metode ini digunakan indikator absorbsi. senyawa yang biasa digunakan adalah fluoresein dan eosin.
       Metode kekeruhan : Pada metode ini digunakan larutan baku natrium klorida dimana larutan tersebut dititrasi dengan larutan perak dengan adanya asam nitrat bebas atau sebaliknya dengan persyaratan tertentu penambahan indikator tak diperlukan karena adanya kekeruhan yang di sebabkan penimbunan beberapa tetes suatu larutan pada larutan yang lain yang menandakan titik akhir belum tercapai. Titrasi dilanjutkan hingga tidak ada kekeruhan lagi.
       Banyak senyawa-senyawa yang tak larut dalam air, bila dilarutkan dengan pelarut organik maka akan menaikkan sifat asam atau basanya. Dengan demikian, perlu pemilihan pelarut yang sesuai untuk menentukan berbagai-bagai macam senyawa dengan titrasi dalam lingkungan bebas air ini. Senyawa-senyawa murni dapat dititrasi secara langsung, tetapi sering juga diperlukan isolasi dari bahan-bahan yang berkhasiat untuk mencegah gangguan terhadap bahan penambah.
       Senyawa-senyawa yang dapat dititrasi sebagai asam misalnya asam-asam halida, anhidrida asam asetat, asam karboksilat, asam-asam amino enol, imida, fenol, pirol dan sulfonamida. Dan senyawa-senyawa yang dititrasi sebagai basa ialah amina-amina, senyawa nitrogen yang mengandung inti heterosiklis, oksazolina, senyawa-senyawa amina kuarterner, garam-garam alkali dari asam-asam organik dan garam-garam dari amina. Garam-garam asam halida dapat ditirasi dalam asam cuka atau anhidrida asam cuka setelah penambahan raksa (II) asetat yang dapat mengubah ion halida menjadi raksa (II) halida yang tidak terdisosiasi.

II.2. Uraian bahan
II.2.1 AQUADES ( Depkes RI, 1979 Halaman 96 )
Nama resmi          : AQUA DESTILLATA
Nama lain             : Air suling
RM/BM                : H2O/18,02
Pemeriaan             : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak
                   mempunyai rasa
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan             : Sebagain zat tambahan; pelarut.

II.2.2 FENOL MERAH (Depkes RI, 1979 Halaman 704)
Nama resmi          : FENOL SULFAKTALEIN
Nama lain             : 4,4(3 – 2,1- Bensik Satiol 3-1 liter) Difenol
Rumus kimia        : C6 H14 O3
Berat molekul       : 318,32
Pemerian              : Serbuk hablur bermacam-macam warna merah tua
                               sampai merah
Kelarutan             : Larut dalam air, mudah larut dalam kloroform eter
Kegunaan             : Sebagai indikator
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup rapat
II.2.3 NATRIUM HIDROKSIDA (Depkes RI,1979 Halaman 421)
Nama resmi          : NATRII HIDROCIDUM
Nama lain             : Natrium Hidroksida
Rumus kimia        : Na(OH)
Berat molekul       : 40
            Pemerian              : Bentuk batang massa hablur air keping-keping,
                             keras dan rapuh dan menunjukkan susunan hablur
                               putih mudah meleleh basa sangat katalis dan                                          korosif segera menyerap karbondioksida.
Kelarutan             : Sangat mudah larut dalam air
Kegunaan             : Sebagai zat tambahan.  

      II.2.3 Perak nitrat (Depkes RI,1979 Halaman 47)
Nama resmi          : ARGENTI NITRAS
Nama lain             : Perak nitrat
RM/BM                : AgNO3/169,87
Pemerian              : Hablur transparan atau serbuk hablur berwarna
                   putih; tidak berbau; menjadi gelap jika kena                                           cahaya.
            Kelarutan             : Sangat mudah larut dalam air; larut dalam etanol
                   (95%) P.
Penyimpanan        : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan             : Sebagai pelarut/pembentuk endapa



BAB III
METODE KERJA
III.1. Alat dan bahan
III.1.1 Alat
1.    Batang pengaduk
2.    Buret 50 ml
3.    Botol coklat
4.    Corong gelas
5.    Gelas kimia 100 ml
6.    Gelas arloji paragfraf
7.    Labu ukur 100 ml
8.    Labu erlenmeyer 50 ml
9.    Pipet volume 50 ml
10.  Statif
11.  Termometer
12.  Timbangan analitik

III.1.2 Bahan
1.      Aquadest 100 ml
2.      Asmasolon 250 mg
3.      Indikator merah fenol 3 tetes
4.      NaOH 0,1 N
5.      Perak nitrat (AgNO3) 20 ml

III.2 Prosedur kerja
III.2.1 Penetapan Kadar Senyawa Golongan Xhantin Dalam 
          Obat Asmasolon.
1.      Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.      Ditimbang 250 mg tablet asmasolon lalu digerus kemudian ditimbang kembali dan dihitung berat rata – rata tablet.
3.      Dilarutkan dengan 100 ml aquadest
4.      Ditambahkan perak nitrat (AgNO3) 0,1 N 20 ml
5.      Ditambahkan indikator merah fenol 3 tetes
6.      Dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N
7.      Diamati perubahan warna yyang terjadi







BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Tabel hasil pengamatan
NO
Berat sampel
Volume titrasi

Perubahan warna


Vt (awal)
Vt(akhir)
Kuning menjadi endapan ungu (-)
1
250 mg
Erlenmeyer1 = 50 ml
49,8 ml
??


Erlenmeyer2 = 49,8 ml
49,6 ml
??


Erlenmeyer1 = 49,6 ml
49,4 ml
??

IV.2 Perhitungan
            IV.2.1 Rata – rata volume NaOH
                        Erlenmeyer 1 = 50 ml – 49,8 ml = 0,2 ml     = 0,2 ml
                        Erlenmeyer 2 = 49,8 ml – 49,6 ml = 0,2 ml  = 0,2 ml
                        Erlenmeyer 3 = 49,6 ml – 49,4 ml = 0,2 ml  = 0,2 ml               +
                                                                                                   0,6 = 0,6  = 0,2 ml
                                                                                                               3

            IV.2.2 Rata – rata bobot teofilin tablet
                        Tablet 1 =  0,34
                        Tablet 2 =  0,33
                        Tablet 3 =  0,34
                        Tablet 4 =  0,33
                        Tablet 5 =  0,33
                        Tablet 6 =  0,33
                        Tablet 7 =  0,34
                        Tablet 8 =  0,34
                        Tablet 9 =  0,34
                        Tablet 10 =  0,34   +
                                                3,36 gr = 3,36 gr = 0,33 gr
                                                                 10
                        Dik :
                        Volume titran = 0,2 ml
                        Normalitas titran = 0,1 N
                        m.g sampel = 250 mg
                        BST teofilin = 18,02
                        Bobot rata – rata = 336 mg
                        Dit :     a.  % kadar . . . ?
                                    b. mg zat aktif . . . ?
                                    c. mg/tablet . . . ?
                        penye :
                       
a.       % kadar = v.titran x n.titran x BST x 100 %
                      mg sampel x 0,1
                  = 0,2 ml X O,1 N x 18,02 mg x 100%
                          250 mg x 0,1
                  = 0,36 x 100 %
                       25
                  = 144 %

b.      mg zat aktif = % kadar x penimbangan zat aktif  
                  = 1,44 % x 250 mg
                  = 3,6 mg

c.       mg/tablet = mg zat aktiv x bobot rata – rata
                     penimbangan zat aktif 
= 3,6 mg x 336
   250 mg
= 4,83 mg/tablet

BAB V
PEMBAHASAN
            Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan mengenai penetapan kadar senyawa golongan xhantin (Theofilin). Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk membuat larutan standart dengan metode argentometri serta untuk menetapkan kadar theofilin yang terkandung dalam tablet asmasolon.
            Xhantin merupakan golongan alkaloid yang bersifat basa lemah, biasanya diberikan dalam bentuk garam rangkap, untuk pemberian oral dapat diberikan dalam bentuk basa bebas atau bentuk garam, sedangkan untuk pemberian parenteral perlu sediaan dalam bentuk garam (Surjadi, 2007).
            Asmasolon merupakan obat yang digunakan untuk meringankan dan mengatasi serangan asma bronchial atau sesak nafas, karena terdiri dari dua komponen yang sinergis. Theofilin merupakan serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa pahit dan mantap diudara (Ditjen POM, 1979). Theofilin merupakan perangsang SSP yang kuat, mereklasasi otot polos terutama bronkus. Tiap tablet asamasolon mengandung 125 mg theofilin dan 12,5 mg efedrin HCL (Auterthoff, 2002).
            Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan dengan menggunakan metode argentometri. Argentometri adalah salah satu cara analisis kualitatif dengan system pengendapan. Cara analisis ini biasanya digunakan untuk menentukan ion- ion halogen, ion perak, ion tiosianat serta ion- ion lain yang dapat diendapkan oleh larutan standartnya (Khopkar, 1990). Prinsip kerja dari argentometri yaitu berdasarkan pada reaksi pengendapan zat yang telah mencapai kesetimbangan pada setiap penambahan titran. Adapun peniter yang digunakan yaitu larutan baku AgNo3 (Gandjar, 2007).
            Langkah pertama yang dilakukan yaitu 10 tablet asmasolon digerus hingga halus kemudian diambil 0,25 gr lalu dilarutkan dalam 100 ml aquadest kemudian dipipet 10 ml dan dimasukkan dalam erlenmeyer kemudian ditambahkan AgNo3 0,1 N sebanyak 20 ml. Setelah itu ditambahkan 3 tetes indicator merah fenol yang dititrasi dengan NaOH 0,1 N dan dilakukan prosedur yang sama pada erlenmeyer 2 dan 3.
            Alasan penggunaan aquadest yaitu karena theofilin larut dalam lebih kurang 180 bagian air sehingga cocok digunakan untuk melarutkan theofilin tersebut (Ditjen POM, 1979).
            Alasan dari penggunaan perrat nitrat (AgNo3) yaitu karena larutan perak nitrat dapat berperan sebagai katalisator untuk dapat mempercepat terjadinya suatu reaksi atau mempercepat laju reaksi (Ganisworo, 1995).
            Alasan penggunaan indicator merah fenol yaitu karena indicator ini dapat berperan sebagai penentu titik ekuivalen atau untuk mengetahui titik akhir titrasi yang ditandai dengan terjadinya perubahan warna yaitu menjadi warna merah muda. Dalam hal ini penggunaan indicator merah fenol karena sesuai dengan metode yang dilakukan dimana seperti yang tertera pada FI edisi III bahwa indicator merah fenol digunakan untuk reaksi penetapan asam dan basa (Ditjen POM, 1979).
            Alasan dari dilakukannya titrasi sebanyak 3 kali yaitu untuk mengetahui dan membandingkan masing-masing kadar yang didapatkan serta untuk mengetahui berapa volume titran yang digunakan sehingga dapat mengalami perubahan warna (Ganisworo, 1995).
            Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil yaitu pada sampel yang terdapat erlenmeyer I, II dan III mempunyai hasil yang sama yaitu berat theofilin sebanyak 0,25 gr dengan volume titran sebanyak 0,2 ml dengan persen kadar sebesar 1,44 %, jumlah mg/ tablet sebanyak 4,83 % serta mg zat aktif yang terkandung yaitu sebanyak 3,6 mg sedangkan dari perubahan warna didapatkan yaitu dari warna kuning menjadi warna ungu, hal tersebut tidak sesuai dengan literatur dimana diliteratur dijelaskan bahwa perubahan warna yang terjadi yaitun dari warna kuning menjadi warna merah muda (Ganisworo, 1995).
            Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan persen kadar theofilin yaitu 1,44% dan hal ini tidak sesuai dengan literature dimana diliteratur dijelaskan bahwa persen kadar theofilin tidak kurang dari 98,5 % dan tidak lebih dari 101,0 % (Ditjen POM, 1979).
            Ketidaksesuain dengan literatur  kemungkinan disebakan karena adanya faktor kesalahan seperti kesalahan penimbangan, proses melarutkan serbuk yang tidak sempurna, NaOH yang sudah terkontaminasi dnegan udara sehingga tidak diperoleh hasil yang akurat, sediaan tablet yang digunakan bukan dalam bentuk sediaan tunggal serta konsentrasi larutan kurang akurat pada saat perlakukan.


pertanyann penuntun


BAB VI
KESIMPULAN
VI.1 Kesimpulan
Bersadarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.  Penetapan kadar yang dilakukan dengan menggunakan metode argentometri
2.  Hasil yang didapatkan pada erlenmeyer I, II dan III yaitu sama dimana digunakan theofilin sebanyak 0,25 gr dan volume titran sebanyak 0,2 ml mempunyai persen kadar 1,44%, jumlah mg/ tablet 4,83 % serta jumlah zat aktif sebanyak 3m6 mg.
3.  Perubahan warna yang terjadi tidak sesuai dengan literature yaitu dari warna kuning menjadi warna ungu.



Vi. saran????
                   


DAFTAR PUSTAKA
Auterhoff dan Kovar, 2002. Identifikasi Obat. ITB: Bandung.
Ditjen POM, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI: Jakarta.
Gandjar, Ibnu Gholib, 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Ganiswara, Sulistia G, 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Universitas Indonesia: Jakarta.
Khopkar, S.M, 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press: Jakarta.
Surjadi, 2007. Kimia Analisis Farmasi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.




























LAMPIRAN
               
  kasihkan keterangan

      

 






No comments:

Post a Comment

laporan KAF Percobaan v penetapan kadar senyawa golongan xhantin (theofilin)

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang Dalam bidang farmasi khususnya kimia atau analisis farmasi sering dilakukan analisis sediaan...