BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Halogen adalah kelompok unsur kimia yang berada pada golongan (VII atau VII A pada sistem lama) ditabel
periodik. Kelompok ini
terdiri dari fluor (F), klor (Cl), brom (Br), yodium (I) dan astatin (At). Halogen menandakan unsur-unsur yang
menghasilkan garam jika bereaksi dengan logam. Istilah ini berasal dari istilah ilmiah bahasa
Perancis dari abad ke-18 yang diadaptasi dari bahasa Yunani. Unsur-unsur halogen secara alamiah berbentuk molekul diatomik. Unsur-unsur pada halogen membutuhkan
satu tambahan elektron untuk mengisi orbit
elektron terluarnya
sehingga cenderung membentuk ion negatif bermuatan satu. Ion negatif ini disebut
ion halida dan garam yang terbentuk oleh ion ini disebut halida. perbaiki
Salah satu uji yang dapat digunakan untuk menguji halogen
bebas adalah dengan menggunakan kertas fluoresein dimana akan terjadi reaksi
antara unsur halogen dengan fluoresein, reaksi antara fluoresein hanya
terbentuk jika terdapat bromida dan iodida bebas. Untuk klorida, fluoresein
tidak dapat langsung bereaksi sehingga dibutuhkan tambahan kalium bromida
sehingga dapat terbentuk warna merah pada kertas fluoresein. Ada beberapa cara
yang dapat dilakukan untuk membedakan ion halida, salah satunya dengan penambahan
perak nitrat dan timbal nitrat yang akan menghasilkan garam halida berbentuk
endapan dengan warna tertentu sesuai dengan ion halogen yang berikatan dengan
perak dan timbal. Berdasarkan latar belakang ini, maka dilakukan percobaan
untuk menguji halogen bebas dan pembentukan garam halida.
I.2
Tujuan
1. Praktikum
ini bertujuan membuat larutan standart larutan perak nitrat 0,01 N
2. Praktikum
ini bertujuan membuat standarisasi larutan perak nitrat dengaan larutan natrium
klorida
3. Praktikum
ini bertujuan untuk menetapkan kadar tablet efedrin HCL
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu
fase padat yang keluar dari larutan. Endapat dapat berupa Kristal atau koloid
dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan penyaringan atau penyusingan. Endapan
terbentuk jika larutan menjadi larutan jenuh dengan zat yang bersangkutan.
Kelarutan tidak bergantung pada tekanan atmosfer. Kelarutan zat bergantung pada
sifat dan konsentrasi zat lain, terutama ion-ion dalam campuran tersebut. (Khopkar,
1990)
Istilah argentometri diturunkan dari bahasa latin
Argentum, yang berarti perak. Jadi, argentometri merupakan salah satu cara
untuk menetukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi
berdasarkan pada pembentukan endapan dengan ion Ag+. Salah satu cara
untuk menetukan kadar asam-basa dalam suatu larutan dengan volumetri.(Day dan
Underwod, 2001)
Argentometri adalah titrasi penentuan analit yang
berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standar perak
nitrat AgNO3. Titrasi pengendapan yang paling banyak dipakai adalah Argentometri,
karena hasil kali kelarutan garam perak halida (pseudohalida) sangat kecil. Ada
3 macam metode argentometri:
1. Metode
Mohr
2. Metode
Volhard
3. Metode
Fajans
Argentometri dibedakan menjadi dua golongan, yaitu
argentometri pembentukan endapan dan Argentometri pembentukan kompleks (Yudhi,
Noor dan Aminhar, 2006). Titrasi argentometri merupakan titrasi dengan
menggunakan larutan perak nitrat untuk menentukan kadar halogen. Penelitian ini
menggunakan titrasi argentometri dengan metode Mohr yakni mula-mula Ag+ yang
ditambahkan bereaksi membentuk endapan AgCl berwarna putih. Apabila Cl- sudah
habis bereaksi maka kelebihan Ag+ selanjutnya bereaksi dengan
CrO42- yang berasal dari indikator K2CrO4 yang
ditambahkan dan membentuk endapan Ag2CrO4 yang
berwarna merah bata, berarti titik akhir titrasi sudah tercapai (Badawi,
Rachmat dkk, 2010).
Metode ini membutuhkan larutan titran yang cukup
banyak dan keakuratannya sangat bergantung pada kecermatan personal yang
melakukan dalam menentukan titik akhir titrasi serta waktu titrasi yang cukup
lama. Dalam praktek, biasanya terjadi perbedaan antara titk ekivalen dan
titik akhir titrasi sehingga menyebabkan hasil yang sedikit bias (Soebiyanto,
Nur Hidayati dan Dewi Sulistyawati, 2005).
Argentometri merupakan titrasi pengendapan sampel yang
dianalisis dengan menggunakan ion perak. Biasanya, ion-ion yang ditentukan
dalam titrasi ini adalah ion halide (Cl-, Br-, I-) (Khopkar,1990). Ada tiga
tipe titik akhir yang digunakan untuk titrasi dengan AgNO3 yaitu :(Harizul
Rivai, 1995)
1.
Indikator
2.
Argentometri
3.
Indikator kimia
Titik akhir potensiometri didasarkan pada potensial
elektrode perak yang dicelupkan ke dalam larutan analit. Titik akhir
argentometri melibatkan penentuan arus yang diteruskan antara sepasang
mikroelektrode perak dalam larutan analit. Sedangkan titik akhir yang
dihasilkan indikator kimia, biasanya terdiri dari perubahan warna/muncul
tidaknya kekeruhan dalam larutan yang dititrasi. Syarat indikator untuk titrasi
pengendapan analog dengan indikator titrasi netralisasi, yaitu :
1. Perubahan warna harus terjadi terbatas dalam range
pada p-functiondari reagen/analit.
2. Perubahan Warna harus terjadi dalam bagian dari kurva
titrasi untuk analit.(J Bassett, 1994)
Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah
dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3).
Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion
Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat
ditentukan (Harizul Rivai, 1995).
Jika AgNO3 ditambahkan ke NaCI yang
mengandung zat berpendar fluor, titik akhir ditentukan dengan berubahnya warna
dari kuning menjadi merah jingga. Jika didiamkan, tampak endapan berwarna,
sedangkan larutan tidak berwarna disebabkan adanya adsorpsi indikator pada
endapan AgCI. Warna zat yang terbentuk dapat berubah akibat adsorpsi pada
permukaan (Khopkar, 1990).
Semua indikator adsorpsi bersifat ionik. Selain
indikator adsorpsi tersebut terdapat pula indikator-indikator adsorpsi yang
digunakan dalam titrasi pengendapan, yaitu turunan krisodin. Indikator tersebut
merupakan indikator asam basa dan indikator reduksi oksidasi dan memberikan
perubahan warna yang reversibel dengan brom. Indikator ini berwarna merah pada
suasana asam clan kuning pada suasana basa. Indikator ini juga digunakan untuk
titrasi ion I" dengan ion Ag+. Kongo merah adalah indikator asam basa
lainnya (Antara, dkk, 2008).
Selain kelemahan, indikator adsorpsi mempunyai
beberapa keunggulan. Indikator ini memberikan kesalahan yang kecil pada
penentuan titik akhir titrasi. Perubahan warna yang disebabkan adsorpsi
indikator biasanya tajam. Adsorpsi pada permukaan berjalan baik jika endapan
mempunyai luas permukaan yang besar. Warna adsorpsi tidak begitu jelas jika
endapan terkoagulasi. Kita tidak dapat menggunakan indikator tersebut karena
koagulasi. Koloid pelindung dapat mengurangi masalah tersebut.
Indikator-indikator tersebut bekerja pada batasan daerah-daerah pH tertentu
juga pada konsentrasi tertentu saja, yaitu pada keadaan yang sesuai dengan
peristiwa adsorpsi dan desorpsi saja (Svehla,1985).
II. 2 Uraian Bahan
1. AQUADEST
( FI EDISI III HAL : 96 )
|
Nama
Resmi
|
:
AQUA DESTILLASI
|
|
Nama
Lain
|
:
Air Suling
|
|
Pemerian
|
:
Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa
|
|
Kelarutan
|
:
-
|
|
Kegunaan
|
:
Sebagai pelarut
|
2. FENILPROPANOLAMINE
HCl ( FI EDISI III Hal : 401)
|
Nama
Resmi
|
:
FENILPROPANOLAMINE HCl
|
|
Nama
Lain
|
:
Fenilpropanolamin hidroklorida
|
|
RM/BM
|
: dimana???
|
|
Pemerian
|
: Serbuk hablur putih,
bau aromatis lemah, dipengaruh oleh
cahaya.
|
|
Kelarutan
|
: Mudah larut dalam air
dan etanol, tidak larut dalam eter
|
|
Kegunaan
|
:
sebagai sampel
|
3. INDIKATOR
K2CrO4 ( FI EDISI III Hal : 690)
|
Nama
Resmi
|
:
KALII KROMAT
|
|
Nama
Lain
|
:
Kalium kromat
|
|
Pemerian
|
: Massa hablur,
berwarna kuning
|
|
Kelarutan
|
: Sangat mudah larut
dalam air, larutan jernih
|
|
Kegunaan
|
:
Sebagai indikator
|
4. PERAK
NITRAT ( FI EDISI III Hal : 97 )
|
Nama
Resmi
|
:
ARGENTI NITRAT
|
|
Nama
Lain
|
:
Perak Nitrat
|
|
Pemerian
|
:
Hablur atau transparan atau serbuk hablur berwarna
putih, tidak berbau, menjadi gelap jika
terkena cahaya
|
|
Kelarutan
|
:
Sangat mudah larut dalam air, larut dalam etanol
(95 %) p
|
|
Kegunaan
|
:
Sebagai larutan baku
|
BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan yang digunakan
III.1.1
Alat
- Batang
pengaduk
- Botol
semprot
- Buret
50 ml
- Corong
kaca
- Gelas
kimia 100 ml
- Labu
Erlenmeyer paragraf
- Labu
ukur 100 ml
- Lumpang
dan alu
- Pipet
tetes
- Timbangan
analitik
III.1.2 Bahan yang
digunakan
- Aquadest
- Indikator
K2CrO4
- Perak
nitrat
- Tablet
decolgen
III.2 Prosedur Kerja
1. Ditimbang
50 mg decolgen
2. Dimasukan
kedalam labu ukur
3. Dimasukan
100 ml aquadest
4. Dipipet
10 ml larutan decolgen
5. Dimasukan
kedalam Erlenmeyer
6. Ditambahkan
3 tetes K2CrO4
7. Dititrasi
dengan AgNO3 0,1 N
8. Diamati
dan dihitung kadarnya
Skema Kerja
Ditambahkan 3 tetes K2CrO4
Dititrasi dengan AgNO3 0,1 N
Diamati perubahan
warnanya
BAB IV
HASIL DAN
PENGAMATAN
IV.
1 Hasil Pengamatan
1.
Table hasil pengamatan
|
No
|
Berat sampel
|
Volume titran
|
Perubahan warna
|
|
|
Vt (awal)
|
Vt (akhir)
|
|||
|
1.
|
Decolgen
50 mg
|
50 ml
|
48 ml
|
Endapan
kemerah-merahan
|
|
2
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
2.
Perhitungan
Dik : V titran = 2 ml
N titran = 0,1 N
Bst =
18,77 mg
Mg sampel = 50 mg
Dit
: % kadar ?
Penyelesaian
: % kadar =
x 100 %
=
x 100 %
=
x 100 %
=
x 100 %
=
75,08 %
Mg zat aktif = % kadar x penimbangan zat aktif
= 75,08 % x 50 mg
= 37,54
Mg/tablet =
x bobot rata-rata
=
x 509 mg
= 0,38 mg/tablet
BAB V
PEMBAHASAN
Pada praktiukum kali ini dilakukan
percobaan mengenai penetapan kadar golongan garam halogen dengan tujuan untuk
menentukan kadar obat decolgen dalam sediaan tablet, yang mengandung
fenilpropanolamin HCl.
Pada praktikum ini digunakan metode
argentometri, argentomentri adalah salah satu analisis kuantitatif dengan
system pengendapat (presipitasi), ada beberapa metode dalam titrasi
argentometri yaitu metode mohr, motode volhard, metode K. vajans, dan metode
leibig (Khopkar, 2010).
Dalam praktikum ini digunakan argentometri
dengan metode mohr, metode ini digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan
bromida dalam suasana netral dengan larutan baku perak nitrat dengan penambahan
larutan kalium kromat sebagai indicator dengan membentuk endapan perak kromat
yang berwarna merah (Gandjar, 2007).
Sampel yang digunakan dalam percobaan ini
adalah tablet decolgen yang mengandung fenilpropanolamin HCl dengan berat
sampel 50 mg, kemudian sampel dilarutkan dengan 100 ml aquadest lalu diambil 10
ml dan dimasukan kedalam Erlenmeyer setelah itu ditambahkan K2CrO4.
Penambahan indicator ini sudah menjadi
ketentuan dalam titrasi pengendapan cara mohr. Setelah penambahan indicator,
warna larutan sampel menjadi kuning. Lalu setelah itu dititrasi dengan larutan
baku AgNO3. Alasan dititrasi dengan AgNO3 adalah
berdasarkan namanya, titrasi argentometri menggunakan larutan AgNO3
sebagai titrannya, karena AgNO3 adalah satu-satunya garam perak yang
terlarutkan air sehingga pereaksi perak nitrat dengan garam lain akan menghasilkan
endapan. Seperti halnya pada decolgen yang mengandung fenilpropanolamin HCl
dapat ditentukan berdasarkan reaksi
Warna
putih yang berbentuk dari akibat reaksi antara AgNO3 dengan
fenilpropanolamin yang mengandung HCl. Apabila Cl- habis bereaksi dengan Ag
dari AgNO3. Titik akhir titrasi dapat dinyatakan dengan indicator
k2cro4 dengan ion Ag berlembih menghasilkan endapan AgCl yang berwarna putih
dan menjadi kemerah-merahan. Reaksinya yaitu
Setelah
dititrasi pada larutan sampel terbentuk endapan kemerah-merahan, hal inilah
yang membuktikan bahwa metode tittrasi pengendapan yang dilakukan adalah cara
mohr. Munculnya endapan yang berwarna kemerah-merahan pada titk akhir titrasi
dikarenakan kromat terikat dengan ion oerak membentuk senyawa yang sukar larut
berwarna merah bata.
Adapun
volume titrasi yang didapatkan yaitu 2 ml, dan persen kadar yang didapatkan
dari hasil perhitungan yaitu 75,08 %, hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa
fenilpropanolamin HCl mengandung tidak kurang dari 98,0 % dan tidak kurang dari
101,0 % (Dirjen POM, 1979).
Dan
didapatkan hasil perhitungan mg/tablet yaitu 0,38/tablet, hasil ini tidak
sesuai dengan nilai fenilpropanolamin HCl yang berada dietiket yaitu mengandung
12,5 mg/ tablet.
Ini dikarenakan adanya faktor kesalahan yaitu kurang
telitinya praktikan dalam melihat volume titran dan kurang telitinya praktikan
dalam menimbang.
pertanyaan penuntun
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa kadar senyawa obat dengan decolgen yang
mengandung fenilpropanolin HCl didpatakan hasil yaitu 75,08 %. Dan mg/tablet
didapatkan hasil 0,38 mg/ tablet.
V.2 Saran
??????
DAFTAR PUSTAKA
Antara, I K. G.,
I W. Budiarsa Suyasa, dan A. A. Bawa Putra, 2008, Kajian Kapasitas dan
Efektivitas Resin Penukar Anion untuk Mengikat Klor dan Aplikasinya pada Air,
Jurnal Kimia 2. Vol. 2 No. 87.
Badawi, Rachmat, Ismulawardi,
Agoes Noegraha, dan Subroto, 2010, Pemanfaatan Grafit Pensil sebagai Elektrode
Selektif Ion Bermembran AgCl/Ag2S untuk Analisa Ion Klorida, Fakultas Farmasi
Universitas Airlangga, Surabaya.
Bassett, J. 1994.
Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Buku Kedokteran : EGC.
Jakarta.
Day, RA. Jr dan Al Underwood. 1992. Analisis Kimia
Kuantitatif edisi kelima. Erlangga. Jakarta.
Dirjen, POM. 1979.
Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta.
Gandjar, I. G. & Rohman,
A., 2007. Kimia Farmasi Analis. Pelajar . Yogyakarta.
Harizul,
Rivai. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Universitas Indonesia Press 22 :
Jakarta.
Khopkar, S. M.,2010. Konsep
Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia press. Jakarta.
Soebiyanto, Nur
Hidayati, Dewi Sulistyawati, 2005, Konsentrasi Indikator Terkontrol Pada
Argentometri Mohr, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi, Surakarta.
Svehla,G. 1985. Analisis
Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi Ke Lima. PT. Kalman Media Pusaka
: Jakarta.
Underwood dan R.A. Day, 2001, Analisis Kimia
Kuantitatif, Erlangga, Jakarta.
Yudhi, Noor dan
Aminhar Lakoni, 2006, Analisis Khlorida Di Dalam Serbuk UO2 dengan Teknik
Titrasi Potesiometrik, Prosiding Presentasi Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir VI, Jakarta.
LAMPIRAN

jelaskan
No comments:
Post a Comment